SUMBER DAYA HUTAN


Hutan merupakan formasi tumbuhan yang terdiri atas kayu yang tumbuh rapat sehingga membentuk lapisan daun-daunan yang melindungi tanah. Hutan juga suatu areal tanah yang diatasnya ditumbuhi berbagai jenis dan ukuran tumbuhan. Berbagai jenis tumbuhan tersebut memberikan manfaat bagi manusia sebagai sumber penghasil kayu dan hasil hutan lainnya serta sumber yang dapat mempengaruhi iklim dan tata air disekitarnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diketahui bahwa hutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, keberadaan hutan harus tetap dijaga dan dilestarikan. Adanya penebangan hutan dan kebakaran hutan, baik secara sengaja maupun tidak disengaja, menjadikan luas areal hutan akan semakin berkurang. Luas hutan yang berkurang mengakibatkan meningkatnya kandungan CO2 di atmosfer yang selanjutnya akan meningkatkan suhu bumi yang disebut efek rumah kaca. Akibat lain dari kerusakan hutan adalah:
·         Meningkatnya kemungkinan terjadinya badai.
·         Kelestarian flora dan fauna terancam
·         Terjadi tanah longsor.
·         Terjadi banjir pada waktu musim hujan dan terjadi kekeringan pada musim kemarau.

A.    Penggolongan hutan

Bumi merupakan planet yang sangat berbeda dengan planet-planet yang ada dalam tata surya kita. Interaksi antara massa daratan, samudra, dan atmosfer menghasilkan beraneka ragam bentang alam serta iklim dunia yang bervariasi. Kekuatan interaksi tersebut menghasilkan beraneka ragam bioma atau suatu komunitas vegetasi yang mempunyai kemampuan adaptasi sama terhadap lingkungan regional.

1.      Berdasarkan jenis bioma
a)      Bioma Tundra
Bioma tundra mempunyai karakteristik iklim regional yang sangat ekstrim dengan suhu rata-rata rendah, bersalju, dan mempunyai musim panas yang pendek. Jenis vegetasi yang tumbuh adalah lumut yang membentuk suatu hamparan yang luas atau sering disebut sebagai ”hamparan bantalan”. Jenis-jenis lumut tersebut yaitu dark red, rumput kipas, dan lain-lain. Tersebar di kutub utara dan di Pegunungan Alpine.
b)      Bioma Taiga atau Hutan Boreal
 
Bioma taiga terletak di kawasan beriklim subartik dengan iklim yang sangat dingin dan musim panas yang sangat pendek. Kisaran temperatur antara suhu rendah dan suhu tinggi sangat besar. Tersebar di Skandinavia, Rusia Timur, Amerika Utara, dan beberapa di kawasan Asia Utara.
c)    Bioma Hutan Iklim Sedang
Ciri khas dari bioma hutan iklim sedang adalah warna daun yang berwarna oranye keemasan. Hal ini disebabkan karena pendeknya hari sehingga merangsang tanaman menarik klorofil dari daun sehingga diisi pigment lain. Jenis vegetasi yang tumbuh adalah quercus (oak), acer (maple), castanea dan lain-lain. Tersebar di Eropa Barat, Eropa Tengah, Asia Timur (Korea dan Jepang) dan Timur Laut Amerika. Vegetasi jenis ini hanya dapat ditemui di Benua Eropa serta Asia Timur, karena vegetasi ini hidup pada kawasan subtropis dengan iklim semi selama enam bulan serta mengalami musim gugur saat musim kering sampai musim dingin.
d) bioma hutan hujan tropis

Jenis hutan hujan tropis yang berada di Sumatra atau Kalimantan. Indonesia merupakan salah satu negara terbesar yang masih mempunyai hutan hujan tropis selain Brazil, Afrika bagian barat, dan Madagaskar. Hutan hujan merupakan bioma paling kompleks, jumlah dan jenis vegetasinya sangat banyak dan bervariasi, keadaan itu disebabkan oleh iklim mikro yang sangat sesuai bagi kehidupan berbagai jenis tumbuhan. Iklim hutan hujan tropis dicirikan dengan musim hujan yang panjang, suhu udara, dan kelembapan udara tinggi. Terdapat beberapa lapisan vegetasi dalam hutan hujan, yaitu sebagai berikut.
·          Lapisan vegetasi yang tingginya mencapai 35-42 m dan daunnya merupakan ”kanopi” (payung) bagi vegetasi di bawahnya.
·          Lapisan tertutup kanopi dengan ketinggian vegetasi berkisar 20-35 m, pada lapisan ini sinar matahari masih bias menembus.
·          Lapisan tertutup kanopi berkisar 4-20 m, merupakan daerah kelembapan udara relatif konstan.
·          Lapisan vegetasi dengan ketinggian berkisar 1-4 m.
·          Lapisan vegetasi dengan ketinggian antara 0-1 m, berupa anakan pohon serta semak belukar.
Jenis vegetasi yang tumbuh dalam hutan hujan tropis di antaranya Dipterocarpaceae, Pometia spp, Arecaceae (palem), Mangifera spp, dan Rafflesia spp. Terdapat juga jenis vegetasi yang khas yaitu epifit (angrek-anggrekan) dan liana (tumbuhan merambat contohnya adalah rotan). Bioma hutan hujan tropis tersebar di daerah antara 10º LU dan 10º LS, termasuk di dalamnya Hutan Amazon (Amerika Tengah), Afrika Barat, Madagaskar Timur, Asia Selatan (Indonesia dan Malaysia), dan Australia.
e) Bioma Savana (Padang Rumput)

Bioma savana beriklim asosiasi antara iklim tropis basah dan iklim kering yang terbentang dari kawasan tropika sampai subtropik. Daerah tropika sampai subtropika dengan curah hujan yang tidak teratur menyebabkan tanah di daerah tersebut mempunyai tingkat kesuburan sangat rendah. Vegetasi yang tumbuh adalah rumput-rumputan, seperti gramineae jenis rumput yang hidup sepanjang tahun dengan ketinggian rumput mencapai 2,5 m lebih. Selain gramineae tedapat juga palm savanna, pine savanna dan acacia savanna. Bioma ini tersebar di Afrika Timur, Amerika Tengah, Australia, dan Asia Timur.
1.  Berdasarkan jenis tumbuhan
·         Hutan homogen yaitu hutan yang terdiri dari satu jenis tumbuhan utama saja, misalnya hutan ati, hutan pinus, dan lain-lain.
·         Hutan heterogen yaitu hutan yang terdiri dari berbagai jenis tumbuh – tumbuhan biasanya merupakan hutan rimba
   2. Berdasarkan ketinggian tempat
·         Hutan payau (hutan pantai), yaitu hutan yang terdapat disepanjang pantai, misalnya dipantai timur selatan pulau Sumatra dan pantai timur Pulau Jawa.

·         Hutan rawa, yaitu hutan yang terdapat didaerah rawa, misalnya hutan pulau Kalimantan.

·         Hutan dataran rendah, yaitu hutan yang terdapat di daerah dtaran rendah.
·         Hutan pegunungan, yaitu hutan yang terdapat didaerah penggunungan.
Berdasarkan keadaan iklim
·         Hutan hujan tropis, yaitu hutan yang berdaun lebat, berpohon besar dan tinggi, misalnya hutan dipulau Sumatra, Pulau Kalimantan dan Pulau Irian Jaya, Dataran Rendah Amazon (Brazil), serta Selatan Florida (Amerika tengah)
·         Hutan musim, yaitu hutan yang daunnya merangas pada musim panas dan betunas pada musim hujan.
·         Hutan daerah sedang, yaitu hutan yang terdapat di wilayah 25º - 40º lintang utara dan lintang selatan.


  1. Berdasarkan tujuan dan kegunaan
·         Hutan produksi, yaitu hutan yang dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan baku produksi, seperti kayu bangunan, kertas, perabot rumah tangga, dan lain-lain.

·         Hutan lindung, yaitu hutan yang dimaksudkan untuk perlindungan alam dan kelestarian lingkungan, misalnya untuk mencegah erosi dan banjir,serta mengatur kelembabapan tanah.
·         Hutan rekreasi yaitu hutan yang diperuntukan bagi kepentingan rekreasi supaya daerah selalu sejuk dengan pemandangan yang indah.
·         Hutan suaka alam yaitu hutan yang berfungsi melindungi tumbuhan yang sudah langka dan dikhwatirkan punah.

C.      Jenis Hutan di Indonesia dan Pemanfaatannya 

Indonesia tercatat dalam peringkat lima besar dunia sebagai negara yang memiliki keanekaragaman flora tertinggi, di mana mencapai kurang lebih 38.000 spesies (55% endemik), urutan pertama dalam kekayaan jenis Palem (477% spesies dan 47% endemik) serta 400 spesies lebih Dipterocarpaceae yang merupakan jenis pohon yang bernilai ekonomis.
Kekayaan berbagai jenis flora tersebut dipengaruhi oleh letak geografis Indonesia, kondisi iklim serta sejarah geologis Indonesia. Persebaran flora dan fauna di Indonesia sangat dipengaruhi sejarah geologi Indonesia. Kurang lebih satu juta tahun yang lalu, Sumatra, Jawa dan Kalimantan menjadi satu dengan Benua Asia, serta Papua bersatu dengan Benua Australia, sedangkan Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara merupakan pulaupulau yang tidak pernah bersatu dengan benua/daratan manapun. Posisi Sulawesi yang terisolasi dalam waktu cukup lama memungkinkan terjadinya evolusi berbagai jenis spesies yang unik sehingga pulau ini mempunyai tingkat endemisme flora maupun fauna yang cukup tinggi.

Alfred R.Wallace pada abad ke-19 mengadakan penelitian tentang kekayaan keanekaragaman hayati di Indonesia. Selanjutnya menetapkan Sulawesi dan Kepulauan NTT sebagai wilayah khusus (wallace region) yang dibatasi oleh garis maya yaitu Garis Wallace. Garis ini memisahkan Sulawesi dan Kepulauan NTT dengan Jawa, Sumatra dan Kalimantan (pulau-pulau Paparan Sunda) serta Garis Weber yang memisahkan Sulawesi dan Kepualauan NTT dengan Papua dan Maluku (Paparan Sahul).
Indonesia merupakan suatu negara yang luas dan kaya akan kekayaan alam yang dapat dikelompokkan dalam beberapa klasifikasi. Secara geografi kita akan mengelompokkannya secara keruangan yaitu dalam beberapa ekosistem. Kekayaan flora Indonesia terbagi dalam beberapa ekosistem, yaitu sebagai berikut.
a.      Hutan Pegunungan
Hutan pegunungan ini luasnya mencapai 65% dari seluruh hutan yang ada di Indonesia. Vegetasi didominasi oleh jenis Dipterocarpaceae seperti meranti merah, keruing, nyatoh dan lain-lain. Tersebar di Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua.

b.      Hutan Sub-Montana dan Montana
Hutan ini terdapat pada ketinggian antara 1300-2500 m, vegetasi yang tumbuh jenis Lauraceae dan Fagaceae, sedangkan suku Dipterocarpaceae sedikit dijumpai
c.       Hutan Savana
Hutan savana terdapat di Papua, Nusa Tenggara Timur, serta sedikit dijumpai di Maluku. Di Papua vegetasi hutan savana merupakan asosiasi antara padang rumput dan Ecalyptus spp, di Maluku merupakan asosiasi antara padang rumput dan Malauleca serta di Nusa Tenggara Timur asosiasi antara padang rumput dengan Ecalyptus alba, serta tersebar tidak merata pohon lontar (sejenis palem-paleman).
d.      Hutan Rawa
Hutan rawa ialah hutan yang selalu tergenang oleh air tawar baik musiman ataupun sepanjang tahun. Hutan rawa banyak tersebar di sepanjang pantai timur Sumatra, pantaipantai di Kalimantan, Papua, dan beberapa di Jawa. Vegetasi yang tumbuh pada hutan ini di antaranya jelutung, binuang, rengas, nibung, rotan, pandan, dan palem-paleman.
e.       Hutan Gambut
Hutan gambut terbentuk dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan di masa lampau yang berjalan terus-menerus sehingga terbentuk suatu lapisan tanah. Dilihat dari proses pembentukan tanah di hutan gambut tersebut menunjukkan bahwa hutan ini memiliki kandungan bahan organik yang cukup tinggi. Vegetasi yang tumbuh adalah jenis ramin (Gonystilus bancanus) serta beberapa terdapat meranti rawa dan jenis dari Agathis. Terjadinya hutan gambut mengingatkan kita pada bagaimana batubara terbentuk. Banyaknya kandungan bahan organic pada hutan gambut membuat orang-orang banyak melakukan eksploitasi terhadap batubara yang terbentuk pada hutan gambut.
f.       Hutan Pasang Surut
Hutan ini berada di kawasan terjadinya pasang surut pantai, hutan ini juga sering disebut sebagai hutan mangrove. Ciri khas dari hutan ini adalah sistem perakaran tumbuhan bakau yang menonjol disebut sebagai akar nafas (pneumatofor) yang merupakan bentuk adaptasi tumbuhan untuk mendapatkan oksigen karena tanah pada hutan ini miskin oksigen bahkan anaerob. Vegetasi yang tumbuh adalah rhizopora, avecinia, sonneratia, bruguinera, dan ceriop. Tersebar di Sumatra, Kalimantan, Maluku, Bali, Jawa, dan Papua.
Persebaran flora di Indonesia selain menurut ekosistem tersebut, Wallace juga membaginya dalam 3 bagian yang dipisahkan oleh Garis Wallace (di sebelah barat Sulawesi dan NTT) dan Garis Weber (di sebelah timur Sulawesi dan NTT) sebagai berikut.
a)      Bagian barat meliputi Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Bagian ini kaya akan berbagai spesies flora, seperti Dipterocarpaceae diperkirakan terdapat 267 spesies. Macammacam flora yang lain di antaranya : Rafflesia spp, berbagai jenis anggrek, berbagai jenis tanaman obat, dan lain-lain.
b)      Bagian peralihan meliputi Sulawesi dan Nusa Tenggara, jenis flora yang ada, di antaranya Dipterocarpaceae (jenisnya lebih sedikit dibanding Sumatra dan Kalimantan). Terdapat anggrek yang unik dan khas yaitu ”anggrek hitam”, warna hitam terdapat pada putiknya, sedangkan mahkota bunga sebenarnya berwarna hijau muda. Selain flora di atas terdapat juga kayu cendana, kayu kemiri, kayu hitam, dll.
c)      Bagian timur meliputi Maluku dan Papua, jenis flora yang ada di antaranya flora mangrove dengan asosiasi cemara laut, butun, dan ketapang.

C.    Pelestarian Hutan Flora (Tumbuhan) di Indonesia

Pelestarian tumbuhan di Indonesia terutama hutan tidak hanya ditujukan pada jenis-jenis tumbuhan langka saja, tetapi juga ditujukan untuk kelestarian sumber daya kayu sebagai kekayaan alam. Pelestarian flora hutan dilakukan antara lain sebagai berikut.
1.      Pengawasan Ketat terhadap Kayu Hutan
Keluarga meranti-merantian (Dipterocarpaceae) merupakan penghasil kayu terbesar di Indonesia. Penebangannya sangat giat, tetapi kurang memerhatikan penanamannya kembali. Jenis-jenis kayu yang dikhawatirkan akan sangat berkurang adalah kapur, keruing, tengkawang, damar, bakau, ramin, ulin, eboni, dan cendana. Khusus kayu ulin, eboni, dan cendana sangat banyak diminati masyarakat dan mempunyai nilai ekspor yang tinggi. Pemerintah telah mengadakan pengawasan ketat agar kayu-kayu tersebut jangan sampai punah.
2.      Penanaman Hutan Kembali (Reboisasi)
Penebangan kayu hutan hendaknya diberi kewajiban untuk menanam kembali pohon-pohon yang telah ditebang. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kestabilan hutan dan mencegah terjadinya banjir dan tanah longsor, serta menjaga kelestarian sumber daya kayu hutan agar tetap terjamin.
3.      Cagar Alam
Kawasan hutan yang dilindungi untuk mempertahankan tumbuhan/flora agar dapat berkembang baik secara alami disebut cagar alam. Berikut contoh cagar alam yang ada di Indonesia.
a.       Rafflesia di Bengkulu, untuk melindungi bunga Rafflesia Arnoldi sebagai bunga terbesar di dunia.
b.      Ujung Kulon di Jawa barat, untuk melindungi: badak, buaya, banteng, rusa, babi hutan, merak, dan tumbuh-tumbuhan.
c.       Sibolangit di Sumatra Utara, untuk melindungi flora asli khas dataran rendah Sumatra Timur antara lain bunga lebah dan bunga bangkai.
d.      Pulau Dua di Jawa Barat, untuk melindungi hutan dan berbagai jenis burung.
e.       Arjuna Lalijiwa di Jawa Timur, untuk melindungi hutan cemara dan hutan alpina.
f.       Cibodas di Jawa Barat untuk melindungi hutan cadangan di daerah basah.
g.      Tanjung Pangandaran Jawa Barat, untuk melindungi hutan rusa, banteng, dan babi hutan.
h.      Liabo Pauti, di Sumatra Barat, untuk melindungi tumbuh-tumbuhan khas Sumatra Barat dan beberapa macam hewan antara lain siamang dan tapir.
i.        Cagar alam di Kalimantan Timur dimaksudkan untuk melindungi berbagai jenis anggrek alam (Orchiaceae). Beberapa jenis anggrek di tempat ini hanya terdapat di Indonesia, misalnya anggrek hitam (Coelogyne pandurata). Jenis-jenis flora yang dilindungi saat ini antara lain sebagai berikut.
·         Vegetasi hutan musim.
·         Vegetasi dan hutan pegunungan.
·         Vegetasi rawa dan hutan rawa air tawar.
·         Hutan depterocarpaceae tanah rendah.
·         Hutan gambut.
·         Hutan kerangas (health forest).
·         Hutan pantai dan hutan bakau.
·         Hutan cadangan di daerah basah.
·         Berbagai spesies bunga.

D.    Fungsi dan Peranan Hutan
Hutan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjaga kelestarian ekosistem manusia. oleh karena itu, pemanfaatan hutan harus selalu mengacu pada pertimbangan ekologis. Fungsi ekologis hutan diantaranya:
  • Hutan merupakan paru-paru dunia karena dalam proses fotosintesis daun-daun akan mengisap karbondioksida dan mengeluarkan oksigen. Oleh Karena itu, keberadaan hutan dapat menjaga kestabilan di udara.
  • Hutan dapat menahan erosi karena laju aliran permukaan dihambat oleh akar-akar pohon. Selain itu, air dapat dengan mudah meresap ke dalam tanah sehingga dapat menjaga tata air tanah.
  • Hutan Sebagai habitat kelestarian flora dan fauna yang ada di dalamnya.
Perkembangan peranan hutan selanjutnya erat hubungannya dengan munculnya industry sebagai idustri dimensi baru dalam kehidupan ekonomi manusia. Berbeda dengan pertanian teknologi industry memungkinkan orang menciptakan sesuatu tanpa harus menambah hutan. Pada tahap ini peranan hutan berubah;hutan tidak lagi semata-mata dipandang sebagai sumber diperolehnya tanah pertanian baru, melainkan sebagai sumber bahan mentah untuk industry. Kayu, rotan, damar, minyak astir adalah hasil hutan tropis yang merupakan bahan mentah industry yang langsung diperoleh dari hutan.
Di beberapa Negara hutan mempunyai peranan tambahan, yaitu sebagai tempat rekreasi dan pariwisata. Denga lain perkataan, hutan terkait bukan hanya dengan sector industry, tetapi juga dengan sector jasa (tersier). Namun secara kuantitatif aspek ini tidaklah sepenting peranan hutan sebagai penunjang sector industri. Hutan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjaga kelestarian ekosistem manusia. oleh karena itu, pemanfaatan hutan harus selalu mengacu pada pertimbangan ekologis. Fungsi ekologis hutan diantaranya:
  • Hutan merupakan paru-paru dunia karena dalam proses fotosintesis daun-daun akan mengisap karbondioksida dan mengeluarkan oksigen. Oleh Karena itu, keberadaan hutan dapat menjaga kestabilan di udara.
  • Hutan dapat menahan erosi karena laju aliran permukaan dihambat oleh akar-akar pohon. Selain itu, air dapat dengan mudah meresap ke dalam tanah sehingga dapat menjaga tata air tanah.
  • Hutan Sebagai habitat kelestarian flora dan fauna yang ada di dalamnya.

E.     Pengelolaan Hutan

1.       Kesediaan untuk mensuplai industri-industri pemrosesan kayu.
2.       Peningkatan penggunaan hutan non kayu. Permintaan akan hal ini adalah hutan untuk rekreasi, hutan untuk proteksi air dan system perairan yang dituntut oleh orang-orang desa dan kantor-kantor pengembangan desa.
3.       Pertimbangan lingkungan untuk produksi kayu. Seperti halnya dalam kepentingan
·         Penyingkapan tanah mineral dari hutan yang disebabkan oleh penebangan pohon, peluncuran kayu, penjalanan traktor dan sebagainya, yang dapat mengakibatkan alur-alur dan erosi jurang.
·         Kerusakan pada barang-barang sisa dan pada anggota-anggota sauaka satwa.
·         Kerusakan berat pada tanaman bila hutan-hutan itu ditebang bersih dan dibakar untuk praktek pengubahan penanaman.

F.     Permasalahan Pengelolaan Hutan
-          Kekurangan data inventarisasi untuk manajemen yang sesuai.
Inventarisasi hutan dan penyediaan stok, perluasan dan keadaannya dalam kemampuan tanah di Indonesia masih dapat diperoleh hanya klasifikasi yang sangat luas atas dasar sedikit intensitas dari survey pendahuluan dan atas peta-peta ukuran besar.
-          Kekurangan-kekurangan pada hasil dan pertumbuhan hutan
-          Daya guna tanah sekitar daerah hutan alam
-          Penelitian dan pengembangan
Hutan-hutan perkebunan yang akan dikembangkan untuk mensuplai bahan mentah kepada industry-industry bubur dan kertas dapat dipandang sebagai bagian dari pengembangan tanah hujan tropis yang meminta hasil-hasil segera dari kerja penelitain silviculture, konsekuensi-konsekuensi ekologi, teknologi panenan dan pemrosesan, ilmu ekonomi, pemasaran dan sebagainya.


Penulis : Elan van diaz ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel SUMBER DAYA HUTAN ini dipublish oleh Elan van diaz pada hari Rabu, 30 Maret 2011. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan SUMBER DAYA HUTAN
 
Reaksi: 

0 komentar:

Poskan Komentar

ELAN ARTONO NURDIN. Diberdayakan oleh Blogger.